Love Letters Buat Kamu dan Kamu

Hai kamu. Dan kamu.

Don't be surprised kalo tiba-

tiba saya nulis surat seperti ini

buat kamu, dan kamu.


Well... yeah... so last-decade

memang kirim surat kayak

gini. Sebenernya writing letters

isn't really my thing dan

mungkin buatmu gak terlalu

penting. Jadi biarpun aku

bakal pusing tujuh keliling,

hingga kening keriting, i

promise you i,ll try my best

untuk membuat surat ini

tidak terdengar seperti kiasan

cheesy soal cinta di kartu

Valentine yang dicetak masal.


by Rakhmawati Fitri

Rabu, 22 Mei 2013

Rusunawa Unej “Belum Sukses” Menarik Peminat


-Nauval Afnan-

Universitas Jember (UJ) mempunyai salah satu prasarana yaitu rumah susun sederhana sewa putra (Rusunawa Putra). Berlokasikan di bumi kampus Tegalboto Jalan Kalimantan 37, Jember. Rusunawa putra di UJ termasuk prasarana baru karena mulai berfungsi ditahun ajaran baru 2011. Rusunawa putra diperuntukkan bagi mahasiswa baru (maba) dengan fasilitas yang cukup memadai seperti mushola, kantin, free wifi, dan penjagaan oleh satpam 24 jam.
Ditahun pertama rusunawa putra difungsikan, respon maba kurang berantusias atas infrastruktur baru yang dimiliki UJ ini. Para maba lebih memilih untuk kos di luar. “Padahal sudah digiatkan promosi berupa selembaran dari pihak rusunawa putra,” ujar Sunlip selaku Kepala Rusunawa Putra UJ. Jumlah maba 2011 yang menghuni rusunawa putra dari bulan Juli sampai Januari 2012 berkisar 42 kepala dari 252 kapasitas.
Berbeda dengan minat maba 2012 yang sangat antusias memanfaatkan prasarana rusunawa putra. Ada banyak peningkatan dari maba sebelumnya yang hanya 42 kepala, kini yang menghuni rusunawa putra lebih mendominasi maba 2012. Jumlah total terakhir pada bulan Desember 2012 mencapai  125 kepala.
Sunlip mengeklaim bahwa rusunawa putra UJ termurah seluruh Jawa Timur, terbukti ketika melakukan studi banding di rusunawa Universtas  Negeri Surabaya (UNESA) tahun 2010. Berkaitan dengan opini tersebut memang benar adanya. Diketahui bahwa di rusunawa UNESA biaya menghuni untuk lantai dua 140 ribu per bulan, lantai tiga 130 ribu per bulan dst, (asrama.unesa.ac.id).  Dengan fasilitas yang sama mewahnya dengan rusunawa di universitas lain, tetapi rusunawa putra UJ mempunyai keunggulan yaitu biaya sewa yang murah. Biaya sewa lantai dua 130 ribu per bulan, lantai tiga 120 ribu per bulan, lantai empat sertus ribu per bulan, dan biaya booking kamar untuk sendiri 250 ribu per bulan.
Walaupun rusunawa UJ dikatakan murah, tapi mahasiswa UJ tidak terlalu berminat untuk memanfaatkan infrastruktur baru yang dimiliki UJ ini. Bahkan beberapa mahasiswa ada yang belum tahu bahwa di UJ ada fasilitas rusunawa putra yang sudah berfungsi sejak tahun ajaran 2011. Banyak faktor yang membuat mereka tidak tahu salah satunya tata letak yang kurang strategis. Bahkan ada yang menganggap gedung rusunawa putra adalah gedung milik Fakultas MIPA, padahal pihak pengurus rusunawa putra sudah menggiatkan promosi di setiap fakultas ketika tahun ajaran baru. Seperti tanggapan Abraham mahasiswa FISIP jurusan HI yang baru mengetahui infkastruktur baru UJ, “Setelah mendengar deskripsi rusunawa putra, aku semakin ilfil sama aturannya. Fasilitasnya oke, harganya oke tapi aturan yang nggak boleh bawa teman ke kamar kok kayak di pesantren aja.”
Hal serupa juga saya temukan pada mindset Ageng mahasiswa Fakultas Hukum 2012, “Walaupun kesannya bagus, fasilitasnya lengkap, tapi setelah mendengar kalau tidak boleh memasukkan teman, saya kurang setuju. Saya akan bersedia menghuni rusunawa putra kalau aturan tersebut tidak diberlakukan lagi.”

Peraturan di Rusunawa Putra
Rusunawa tidak memiliki peraturan tertulis mengenai syarat mahasiswa untuk menghuni rusunawa putra secara eksplisit. “Memang dibenarkan bahwa rusunawa hanya diperbolehkan untuk maba,” ujar Sunlip. Sudah jelas kontrak untuk tinggal di rusunawa putra bagi mereka mahasiswa 2011 hanya satu tahun dan berakhir pada Juli 2012. Akan tetapi masih banyak mahasiswa 2011 yang menghuni rusunawa putra walaupun kontraknya sudah habis, “Kalau wacananya memang diperuntukkan bagi maba. Apabila SK mengenai wacana itu sudah turun, ya akan saya laksanakan,” jelas Sunlip. “Selama masih ada yang kosong kenapa tidak dimanfaatkan. Yah, gunakan prinsip ekonomi: manfaatkan kamar yang ada agar menghasilkan pendapatan secara maksimal,” tambah Sunlip, yang juga menjabat sebagai dosen Jurusan  Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekomomi.
Kerena baru difungsikan, rusunawa putra mempunyai banyak peraturan internal yang belum disepakati antara kedua belah pihak yaitu penghuni dan pengelola rusunawa putra. Salah satunya adalah peraturan tidak dibolehkannya teman penghuni masuk ke kamar. Teman penghuni—yang bukan penghuni rusunawa putra—tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar, karena diharapkan keamanan tetap kondusif, “Memang tidak diperbolehkan teman penghuni masuk ke kamar karena demi keamanan. Misalnya ada teman penghuni masuk lalu membawa minuman keras atau terjadi kehilangan, lalu siapa yang tanggung jawab!” jelas pak Sunlip. Aturan tersebut juga berlaku untuk orang tua penghuni supaya tidak diperbolehkan bermalam, tetapi tergantung dari substansinya, “Kalau misalnya ada penghuni yang booking kamar sendiri akan saya perbolehkan. Sebenarnya secara aturan tertulis tidak boleh, kecuali ada penghuni yang sakit,” ungkap Sunlip.
Bagi penghuni rusunawa peraturan tersebut kurang mendapat respon baik, pasalnya setiap pribadi punya privasi masing-masing. Untuk mencegah kontra dari penghuni rusunawa mengenai peraturan tersebut, pihak pengurus rusunawa putra memberikan fasilitas berupa ruang serbaguna yang berkapasitas kurang lebih seratus orang. Ruang serbaguna digunakan sebagai ruang belajar, ruang diskusi, dan rapat bagi kegiatan tamu isidental. Walaupun diberikan fasilitas berupa ruang serbaguna, tetapi banyak keluhan dari penghuni mengenai aturan tersebut yang hanya dilihat dari substansi diskusi akademis saja, “Kita kan sudah dewasa, tentu saja kita tidak akan memasukkan sembarang orang yang tidak kita kenal. Tentu saja kita bisa menanggung risiko masing-masing,” ungkap penghuni yang tidak mau disebutkan namanya ini. “Kalau menanggapi masalah keamanan, buktinya satu tahun yang lalu ketika peraturan itu belum digiatkan kita tidak pernah mengeluhkan karena ada yang kehilangan kok!” tambahnya. “Padahal saya kalau berkunjung di kosan teman selalu diterima dengan baik, tetapi berbeda dengan peraturan di rusunawa putra. Sampai saya tidak enak dengan sahabat saya, hingga dia mengerti dengan sendirinya,” keluhnya, ujar mahasiswa UJ angkatan 2011, yang masih menghuni rusunawa.

Kondisi di Rusunawa Putra
Berkisar satu tahun difungsikan rusunawa putra sudah mengalami banyak masalah. Seperti beberapa kamar yang sengaja dikosongkan karena bocor dan rusunawa putra yang dilanda krisis air. Walaupun bangunan rusunawa yang terlihat mewah juga berbagai macam fasilitas yang ada di dalamnya, akan tetapi rusunawa putra pernah mengalami kekeringan.
Dengan biaya sewa yang murah, tetapi penghuni belum termanjakan oleh fasilitas yang ada di rusunawa putra. Pasalnya  setelah pergantian tahun baru akademik 2012, rusunawa putra mengalami krisis air karena konsumsi air berlebih untuk penghuni yang berkapasitas lebih dari 125 kepala. Untuk menanggulanginya, rusunawa mendapat jatah air tangki dari pusat. Tapi walaupun begitu debit air yang keluar dari keran hanya terjadwal pagi dan sore saja. Pada bulan November 2012 ketika pompa air mendapati kerusakan, alhasil rusunawa putra benar-benar kering selama lebih dari empat hari. Akhirnya banyak penghuni yang menumpang mandi di toilet Fakultas MIPA dan masjid terdekat, bahkan banyak juga yang pindah. Kekeringan yang terjadi di rusunawa putra berakhir pada pertengahan Desember 2012, “Untuk perencanaan rusunawa putra kedepan, tahun 2013 kita mengajukan proposal untuk membuat tempat parkir permanen, penghijauan taman, dan yang terpenting pembuatan sumur bor agar tidak mengalami kekeringan lagi seperti bulan lalu,” ujar Sunlip, ketika saya ajak mengobrol ringan di lobby rusunawa putra 12 Desember 2012 lalu.[]

Rabu, 08 Mei 2013

Potret Wanita-wanita PKL



Ketika wanita mulai menjunjung tinggi emansipasinya, banyak  dari mereka yang membantu perekonomian keluarga bahkan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Hingga wanita yang rela membanting tulang demi perekonomian keluarga tersebut sering dijuluki srikandi, karena memang sifat srikandi yang gigih dan ulet. Fenomena ini juga ada di Jember terutama di daerah kampus, dan memang banyak lapangan pekerjaan yang menjadi pilihan salah satunya adalah pedagang kaki lima (PKL). Srikandi-srikandi sang penguasa resep rahasia makanan dari tangan mereka, sangat pandai memanfaatkan peluang usaha di bumi Tegal Boto ini. Kebanyakan dari mereka menguasai resep masakan yang berhubungan dengan ulek-ulek seperti rujak, tahu tek, gado-gado dan masih banyak lagi.


Tutirah wanita berusia 52 tahun ini misalnya, serta merta turut membantu perekonomian keluarganya melalui PKL dengan berjualan rujak khas Banyuwangi di jalan Kalimantan. Srikandi satu ini berkecimpung dengan cobek, ulekan, serta celemek usang yang dikenakannya setiap hari selama 25 tahun terakhir. “Dulu sebelum ada jembatan Semanggi, ibu jalan kaki dari pasar Tanjung ke sini mas. Terpaksa wes ibu nekat,” ujarnya dengan logat Osing, sambil meracik tempe, tahu, dan sayuran di cobek tuanya.


Dulunya wanita asal Banyuwangi ini bekerja membantu perekonomian keluarganya karena keterbatasan ekonomi semenjak suaminya bekerja serabutan. Dan hingga saat ini dialah yang menjadi tulang punggung keluarganya karena sang suami mulai sakit-sakitan hingga tak mampu bekerja mencari nafkah. Wanita beranak dua ini mengaku selalu menjaga kualitas rasa dari masakannya hingga menjadikan pelanggan terkesan oleh cita rasa yang diciptakannya. “Dulu pelanggan ibuk yang mahasiswa sekarang anaknya juga sudah mahasiswa. Ibuk terkenal sampek sekarang banyak yang bilang rujaknya ibuk masih tetep kayak dulu.” Ujarnya sambil tersenyum ramah. Walaupun dari hasil kerja kerasnya selama ini belum bisa mencapai impiannya yaitu membuat rumah, tapi setidaknya dia sudah berjuang demi pendidikan kedua anaknya hingga tamat SMA dan bisa membeli sepeda motor.


Jika Tutirah bekerja demi membantu perekonomian keluarga, berbeda dengan kisah srikandi satu ini. Saiful namanya, wanita 55 tahun yang berjualan tahu tek di Jalan Bangka dari tahun 2010 sampai sekarang. Dalam perjalanan kariernya, pada tahun 2001 dia pernah berjualan tahu tek di Fakultas MIPA. Karena urusan internal dari pusat yang tidak mengijinkan warung yang tidak memiliki tempat khusus, akhirnya ia berhenti pada tahun 2007 dan melanjutkan kariernya sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Pada tahun 2010 dia kembali melanjutkan kariernya yaitu berdagang tahu tek dan menetap di Jalan Bangka. Kegigihannya dalam mencari nafkah sangatlah berkobar. Dia mau berjualan apapun jika tak ada kendala. Tapi apadaya tempat untuk PKL sudah penuh dan sulit didapatkan. “Sebenarnya saya kepingin jualan lagi yang lain tapi mana tempatnya? Nggak ada tempatnya. Kalau pingin punya tempat itu pasti beli,” dengan nada kecewa, ujar wanita berlogat Madura ini.


Lain lagi dengan Mariyati, penjual pecel madiun  yang sering bertempat di Jalan Jawa. Dalam kariernya dia sangat menjunjung tinggi emansipasi dalam hal perekonomian keluarganya, hingga pekerjaannya yaitu berdagang pecel madiun itu semua atas kemauannya sendiri. Wanita berusia tiga puluh tahun ini menggunakan kesempatan bekerja yang diberikan kebebasan oleh suaminya. “Katanya suami saya gini, kalau sampeyan pingin bekerja nggak papa kalau nggak mau kerja ya nggak papa, bilang gitu. Ya sudah mas saya manfaatkan,” ujarnya dengan mantap. 

Fenomena tersebut banyak di sekitar kita. Lalu bagaimana kajian antropologinya? Saya berkesempatan mengobrol tentang perekonomian wanita-wanita PKL dengan Kusnadi selaku dosen Antropologi Fakultas Sastra, Universitas Jember.


Menurut Kusnadi, di dalam masyarakat mengenal dengan sistem gender. Sistem gender adalah sistem yang mengatur tentang pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki menurut persepsi kebudayaan masyarakat yang disampaikan. Konstruksi sosial yang dibuat untuk masyarakat sendiri untuk mendefinisikan bagaimana perempuan dan laki-laki berperan dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu, dan setiap kelompok masyarakat berbeda persepsinya.


Sedangkan di Jember sendiri mobilisasi seluruh sumber daya keluarga justru dituntut karena kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi. Jadi konstruksi gender yang sebelumnya konserfatif akan menjadi cair atau fleksibel karena tekanan ekonomi dari luar lebih hebat daripada kondisi di dalam. “Saya kira di perkotaan (Jember. Red) jauh lebih cair. Artinya perempuan tidak harus berkiblat pada kodratnya harus ngurus keluarga dan anak-anak, karena tekanan ekonomi di kota berbeda dengan di desa, ” ujar Kusnadi saat saya wawancarai di ruangannya. “Jadi hampir semua keluarga-keluarga yang terlibat disektor informal (seperti wiraswasta. Red) baik suami atau istri itu karena faktor ekonomi sangat mendominasi dikehidupan mereka. Dan itu biasa, sangat wajar,” tutupnya. []